Bukan Cuma BSSN, Peretasan Juga Terjadi di Sejumlah Situs Pemerintah Pusat

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan peretasan situs BSSN, sejumlah situs milik pemerintah pusat lainnya juga mengalami insiden tersebut.
26 Oktober 2021 20:55 WIB • Bacaan 5 menit
Peretasan situs pemerintah pusat imigrasi.go.id Peretasan situs pemerintah pusat imigrasi.go.id
Situs milik Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia turut terkena peretasan.

Baru-baru ini, warganet dihebohkan dengan insiden peretasan terhadap salah satu situs milik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Namun, dalam waktu yang hampir bersamaan, ternyata situs pemerintahan lainnya juga mengalami insiden peretasan.

Pertama ialah situs yang beralamat di https://imigrasi.go.id juga ikut diretas. Situs tersebut merupakan situs resmi Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Kejadian peretasan terhadap situs tersebut diduga terjadi sejak 20 Oktober 2021. Pelaku peretasan meninggalkan nama “./LahBodoAmat” pada halaman yang khusus disisipkan oleh pelaku.

Halaman khusus yang disisipkan peretas di situs milik Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Berikutnya, ada salah satu situs yang dikelola oleh Badan Standardisasi Nasional yang juga kena retas. Situs yang disusupi tersebut berada pada tautan https://jdih.bsn.go.id dengan tautan khusus. Pelaku peretasan meninggalkan nama “TN. Angel” dalam aksinya. Aksi peretasan diduga dilakukan sejak 25 Oktober 2021.

Tangkapan layar halaman yang disisipkan peretas di situs JDIH Badan Standardisasi Nasional.

Selanjutnya, salah satu situs di bawah domain bppt.go.id atau yang dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berada di bawah koordinasi Badan Riset dan Inovasi Nasional mengalami peretasan. Tautan yang mengalami peretasan berada pada alamat http://onlimo.bppt.go.id. Situs tersebut sejatinya merupakan sistem informasi online monitoring kualitas air yang dikembangkan oleh BPPT. Peretasan dilakukan oleh “./s3nt1n3l” pada tanggal 16 Oktober 2021 lalu.

Salah satu situs yang dikelola Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan tampilan yang diubah oleh peretas.

Tak berhenti sampai di sana, salah satu situs yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga ikut mengalami peretasan. Situs mereka yang beralamat di https://jurnalteknodik.kemdikbud.go.id diketahui telah disusupi peretas dengan menampilkan gambar khusus (melalui tautan khusus) yang meninggalkan nama “Mr.kro0oz.305” dalam halaman atau gambar yang tampil. Tampaknya, insiden tersebut telah terjadi sejak 20 Oktober 2021.

Salah satu situs di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang disusupi peretas.

Selain itu, ada juga salah satu situs yang dikelola oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, serta milik institusi Polri yang disusupi oleh peretas yang sama seperti yang terjadi pada situs Ditjen Imigrasi di atas.

Tautan https://contoh.kemendesa.go.id yang tampaknya menampilkan kisah-kisah desa percontohan disusupi peretas melalui halaman khusus. Insiden tersebut sepertinya terjadi sejak 25 Oktober 2021.

Halaman khusus yang disisipkan peretas di situs milik Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Sama halnya dengan di atas, situs berita resmi yang dikelola Polres Banyuasin yang mewartakan setiap kegiatan dan peristiwa kamtibmas di Kota Banyuasin juga mengalami penyusupan yang sama di mana peretas menempatkan halaman khusus sebagai penanda bahwa situs tersebut telah disusupi. Situs tersebut memiliki tautan di https://tribratanews.banyuasin.sumsel.polri.go.id. Sejumlah situs lain yang dikelola oleh Polri diketahui juga turut menjadi sasaran peretasan.

Halaman khusus yang disisipkan peretas di situs milik Polres Banyuasin.

Semua situs milik pemerintah di atas setidaknya masih menampilkan halaman atau pesan dari para pelaku peretasan hingga tulisan ini dipublikasikan. Apapun itu, insiden ini, serta insiden-insiden terdahulu menandakan bahwa keamanan siber Indonesia memang lemah. Pemerintah diharapkan tidak menutup mata dan telinga terkait insiden serius ini serta sesegera mungkin menata ulang kembali keamanan siber dan data Indonesia, bukan dalam tingkat teori, tapi juga implementasi serta kesiapan SDM-nya.

Baca Juga:

Pecandu Wi-Fi. Penggemar Linux. Pemuja aplikasi free dan open source. Berkomunikasi dengan sesama dalam bahasa HTML, CSS, dan sedikit JavaScript.
Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.