Whistleblower: Facebook Dorong Ujaran Kebencian untuk Raih Keuntungan

Facebook dituding mendorong algoritma yang meningkatkan keterlibatan pengguna melalui ujaran kebencian.
4 Oktober 2021 11:06 WIB • Bacaan 3 menit
Facebook Facebook
Foto: Pexels/Pixabay

Tudingan terhadap Facebook muncul dari seorang whistleblower, Frances Haugen, yang menyebut bahwa perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg tersebut lebih mengedepankan keuntungan daripada keselamatan pengguna.

Haugen yang berbicara kepada CBS mengungkap, Facebook mendorong algoritma keterlibatan pengguna melalui ujaran kebencian. Perusahaan menemukan bahwa keterlibatan terbaik akan diperoleh dengan menanamkan rasa takut dan benci kepada pengguna. Algoritma yang diluncurkan pada 2018 lalu dengan kata lain mendorong unggahan ujaran kebencian, meski pihak perusahaan berulang kali mengklaim upaya penghentian terhadap ujaran kebencian.

“Lebih mudah menginspirasi orang untuk marah daripada emosi lainnya,” kata Hagen, dikutip dari The Verge.

Perubahan algoritma tersebut membuat pengguna Facebook akan terpapar dengan unggahan yang dapat “meningkatkan interaksi” mereka terhadap unggahan yang muncul pada bagian News Feed. Hasilnya ialah informasi yang salah dan konten kebencian lainnya semakin banyak ditemukan.

“Informasi yang salah, toksisitas, dan konten kekerasan sangat umum muncul di antara pembagian ulang,” demikian isi salah satu memo internal yang tersebar.

Haugen mengatakan bahwa Facebook dalam berbagai kesempatan lebih memilih untuk melindungi kepentingannya sendiri, seperti menghasilkan lebih banyak uang, dibanding kepentingan publik.

“Ada konflik antara apa yang baik untuk publik dan apa yang baik untuk Facebook dan mereka berulang kali memilih untuk mengoptimalkan kepentingannya sendiri,” ujarnya.

Frances Haugen sebelumnya bekerja sebagai Manajer Produk di Facebook. Ia telah keluar dari perusahaan tersebut sejak awal tahun 2021 karena tidak memiliki pemahaman yang sama dengan perusahaan teknologi yang mendorong ujaran kebencian ini. Sebelum keluar dari perusahaan, ia menyalin serangkaian memo dan dokumen internal dan membagikannya kepada Wall Street Journal.

Salah satu dokumen tersebut mengungkap bahwa selebriti, politisi, dan pengguna Facebook terkenal akan diperlakukan secara berbeda oleh perusahaan dibanding pengguna lainnya. Kebijakan moderasi diterapkan secara berbeda atau tidak sama sekali pada akun tersebut.

Haugen juga berbicara tentang kerusuhan di Capitol Hill pada Januari 2021 dan mengklaim bahwa Facebook turut berperan dalam aksi kekerasan yang melibatkan ribuan pendukung Donald Trump di gedung tersebut.

Penyerbuan Gedung Capitol oleh pendukung Donald Trump pada Januari 2021. Foto: Wikimedia/Tyler Merbler.

Ia mengatakan bahwa Facebook memang mengaktifkan sistem keamanan untuk mengurangi informasi yang salah selama pemilihan Presiden Amerika Serikat, tetapi hal itu dilakukan hanya untuk sementara waktu.

“Begitu pemilihan selesai mereka mematikannya atau mereka mengubah pengaturan seperti sebelumnya untuk memprioritaskan pertumbuhan (interaksi pengguna) daripada keamanan. Itu benar-benar terasa seperti pengkhianatan terhadap demokrasi,” ungkapnya.

Baca Juga:

Pecandu Wi-Fi. Penggemar Linux. Pemuja aplikasi free dan open source. Berkomunikasi dengan sesama dalam bahasa HTML, CSS, dan sedikit JavaScript.
Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.