Zuckerberg Sangkal Tuduhan Bahwa Facebook Dorong Unggahan Ujaran Kebencian

Zuckerberg menyebut, Facebook memperoleh pendapatan dari iklan, sementara para pengiklan tidak mau iklan mereka bersandingan dengan konten berbahaya.
6 Oktober 2021 11:25 WIB • Bacaan 3 menit
Mark Zuckerberg Facebook Mark Zuckerberg Facebook
Pendiri sekaligus CEO Facebook. Foto: Wikimedia/Anthony Quintano.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, menyangkal tuduhan yang disampaikan oleh Frances Haugen, mantan Manajer Produk mereka bahwa Facebook mendorong unggahan ujaran kebencian melalui algoritma mereka yang berimbas pada peningkatan keuntungan. Haugen menyebut bahwa raksasa media sosial tersebut lebih mengedepankan keuntungan dibanding keselamatan penggunanya.

“Kami sangat peduli dengan masalah seperti keselamatan, kesejahteraan, dan kesehatan mental. Sulit untuk melihat liputan yang salah menggambarkan pekerjaan dan motif kita,” tulis Mark Zuckerberg dalam unggahannya.

Zuck, panggilan akrabnya, menyebut banyak klaim dari Haugen yang tidak masuk akal. Sebab, pihaknya mempekerjakan lebih banyak orang yang berdedikasi untuk menyaring ujaran kebencian dan memerangi konten yang berbahaya karena memang memiliki kepedulian akan hal itu.

“Jika media sosial bertanggung jawab atas polarisasi masyarakat seperti yang diklaim beberapa orang, lalu mengapa kita melihat peningkatan polarisasi di AS sementara itu tetap datar atau menurun di banyak negara dengan penggunaan media sosial yang sama beratnya di seluruh dunia?” imbuhnya.

Ia juga dengan tegas menyangkal tuduhan bahwa Facebook memprioritaskan keuntungan di atas keselamatan pengguna. Mark mengklaim, algoritma di media sosial mereka justru meminimalkan tampilnya video yang beredar viral dan lebih banyak memunculkan konten yang diunggah teman dan keluarga terdekat. Algoritma dengan pola seperti itu memang diketahui akan menyebabkan orang menghabiskan lebih sedikit waktu di Facebook, tapi sebagaimana diklaim olehnya, Facebook tetap menerapkannya karena memperhatikan kenyamanan pengguna.

“Yang kami tahu itu (algoritma yang memprioritaskan unggahan dari keluarga dan teman) berarti orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu di Facebook, tetapi penelitian itu menyarankan itu adalah hal yang tepat untuk kesejahteraan orang. Apakah itu sesuatu yang akan dilakukan perusahaan yang berfokus pada keuntungan daripada orang?” ucap Zuckerberg.

Lagipula, Facebook juga memperoleh pendapatan dari iklan yang mereka tayangkan. Sementara para pengiklan tidak menginginkan iklan mereka bersandingan dengan konten-konten berbahaya sehingga sangat tidak masuk akal bagi Facebook untuk mendorong konten berbahaya atau ujaran kebencian demi meraih keuntungan.

“Saya tidak tahu apakah ada perusahaan teknologi yang membuat produk yang dapat membuat orang marah atau depresi. Insentif moral, bisnis, dan produk semuanya mengarah ke arah yang berlawanan,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa Frances Haugen keluar dari perusahaan tersebut sejak awal tahun 2021 karena tidak memiliki pemahaman yang sama dengan perusahaan teknologi yang diklaim mendorong ujaran kebencian ini. Sebelum keluar dari perusahaan, ia menyalin serangkaian memo dan dokumen internal dan membagikannya kepada Wall Street Journal.

Salah satu dokumen tersebut mengungkap bahwa selebriti, politisi, dan pengguna Facebook terkenal akan diperlakukan secara berbeda oleh perusahaan dibanding pengguna lainnya. Kebijakan moderasi diterapkan secara berbeda atau tidak sama sekali pada akun tersebut.

Haugen juga berbicara tentang kerusuhan di Capitol Hill pada Januari 2021 dan mengklaim bahwa Facebook turut berperan dalam aksi kekerasan yang melibatkan ribuan pendukung Donald Trump di gedung tersebut.

Baca Juga:

Pecandu Wi-Fi. Penggemar Linux. Pemuja aplikasi free dan open source. Berkomunikasi dengan sesama dalam bahasa HTML, CSS, dan sedikit JavaScript.
Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.