Smartphone Honor 50 Akan Terpasang Google Mobile Services

Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan masih belum satu suara terkait pemberlakuan larangan ekspor teknologi untuk vendor ponsel Honor.
12 Oktober 2021 14:21 WIB • Bacaan 2 menit
Honor 50 5G Google Mobile Services (GMS) Honor 50 5G Google Mobile Services (GMS)

Vendor smartphone Honor mengumumkan kepastian kerja sama dengan sejumlah pemasok komponen utama smartphone seperti Qualcomm, MediaTek, dan lainnya. Selain itu, mereka juga telah mengamankan kerja sama dengan Google untuk mengintegrasikan Google Mobile Services (GMS) pada smartphone seri Honor 50 mereka agar dapat menjalankan secara resmi Google Play dan aplikasi Android lainnya.

Kerja sama yang terjalin antara mereka dengan sejumlah pemasok komponen utama, termasuk Google, tersebut dapat dilakukan setelah perusahaan tersebut melepaskan diri dari Huawei dan menjadi sebuah perusahaan independen. Saat masih menjadi sub-brand Huawei, mereka tidak dapat melakukan transaksi dengan pemasok komponen teknologi asal Amerika Serikat akibat embargo yang diberlakukan Amerika atas Huawei.

Kerja sama dengan Google tersebut sebenarnya telah diupayakan sejak awal tahun ini dan baru menuntaskan kesepakatan setelah menjalani serangkaian tahapan. Dengan kerja sama tersebut seri Honor 50 yang telah diluncurkan pada pertengahan Juni 2021 dapat memasukkan layanan Google ke smartphone seri tersebut yang dipasarkan di luar Cina.

Meski demikian, hingga saat ini vendor tersebut masih harus mengikuti perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat terkait sanksi serupa yang diberlakukan kepada Huawei. Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan masih belum satu suara terkait pemberlakuan larangan ekspor teknologi untuk vendor ponsel Honor.

Badan-badan keamanan dan perdagangan di Amerika Serikat berbeda pendapat terkait status perusahaan itu. Salah satu pihak bersikeras bahwa Honor seharusnya masuk ke dalam daftar hitam AS dan membuat perusahaan-perusahaan AS tidak dapat bertransaksi dengan mereka.

Namun, pihak lainnya menentang anggapan tersebut dengan alasan bahwa bisnis Honor bukanlah merupakan ancaman signifikan bagi Amerika Serikat.

Namun, meski diterpa rumor yang tidak mengenakkan itu, perusahaan mengklaim akan tetap fokus pada pengembangan bisnis mereka. CEO Honor, Zhao Ming, menjelaskan bahwa mereka akan bergerak ke arah yang lebih transparan, termasuk mempertimbangkan kemungkinan untuk melepas saham perusahaan kepada publik.

“Kami tidak mengecualikan kemungkinan listing perusahaan di masa depan. Tapi kami akan bergerak lebih dulu ke arah yang lebih transparan,” ujarnya.

Baca Juga:

Pecandu Wi-Fi. Penggemar Linux. Pemuja aplikasi free dan open source. Berkomunikasi dengan sesama dalam bahasa HTML, CSS, dan sedikit JavaScript.
Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.